Langsung ke konten utama

Bahaya Radikalisme Agama

Bahaya Radikalisme Agama
Dari perspektif ini penulis berpandangan boleh jadi munculnya gagasan mengubah islam kedalam negara karena semangat berlebihan tanpa dibarengi pengetahuan agama yang memadai. Berawal dari situ maka dimunculkan klaim kebenaran tunggal untuk menghindari pemahaman lain yang berseberangan. Pandangan yang berbeda atau bersebrangan harus diberangus dan dianggap sesat. Selanjutnya agama dijadikan dalih terhadap pemahaman literal mereka sehingga tanpa mereka sadari apa yang mereka perjuangkan adalah ideologi mereka dan bukan islam itu sendiri.

Gerakan radikalisme agama bagaikan musuh dalam selimut. Hal itu dikarenakan dapat membahayakan kehidupan berbangsa dan islam sendiri. Dalam kehidupan berbangsa kekayaan budaya dan tradisi akan tereduksi dengan hadirnya formalisasi agama. Bagi islam sendiri itu berarti penyempitan pemahaman akan islam. Pemahaman berbeda terhadap ideologi tertentu akan dianggap menyimpang dari islam dan harus dibungkam.

Hadirnya semangat menjadikan islam sebagai agama sekaligus negara kembali merisaukan belakangan ini. Gerakan yang lebih dikenal dengan gerakan radikalisme agama mulai menemukan caranya dalam menyebarkan ajarannya. Gerakan ini dikatakan radikal karena lebih mengedepankan pemahaman literal terhadap teks dan cenderung mudah menggunakan kekerasan dalam memaksakan pemahaman mereka. Bila dahulu gerakan radikalisme agama dalam menyampaikan ajarannya hanya melalui jalan revolusioner, seperti Jamaah Islamiyah dengan bom bunuh dirinya, dan terbukti gagal maka sekarang turut menggunakan cara baru yaitu jalan evolusioner.

Itu dapat terlihat dengan munculnya partai politik yang ikut mengusung cita-cita berdirinya negara islam. Jalan evolusioner merupakan jalan halus yang akan memberdaya siapa saja yang tidak terbiasa kritis terutama menyangkut soal penggunaan bahasa semisal dengan mengusung jargon partai dakwah, menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar maka umat muslim akan mudah bersimpati pada mereka. Kelak dari suara demi suara tersebut partai politik itu akan mengunakan posisinya di parlemen untuk menggapai tujuannya. Keberhasilan partai politik tersebut dalam mengusung agenda formalisasi agama akan ikut serta membentuk masa depan Indonesia.

Demi mencegah formalisasi agama yang hanya akan membatasi keluasan islam dalam bungkus satu ideologi saja maka organisasi massa (ormas) yang telah ada sebelumnya di Indonesia ikut mengambil sikap cepat. Itu terlihat dengan terbitnya surat keputusan pimpinan pusat (SKPP) Nomor 149/Kep./I.0/B/2006 oleh pimpinan pusat (PP) Muhammadiyah tentang penyelamatan organisasi dan perlunya pembebasan organisasi dari pengaruh partai politik seperti PKS. Seperti tidak mau kalah cepat Nahdlatul Ulama (NU) juga mengeluarkan fatwa bahwa pendirian negara islam tidak mempunyai rujukan teologis baik dalam al-Qur’an maupun Hadits.

Dipandang dari segi kuantitas sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan dari masa depan islam di Indonesia. Survey tahun 2000 mencatat jumlah penduduk muslim di Indonesia hampir mencapai 89 persen. Persoalannya adalah ketika masyarakat umum yang pendidikan agamanya relatif rendah dihadapkan dengan bahasa sederhana dan simbol agama yang diklaim lebih islami. Sebut saja kata jihad yang banyak disalah artikan oleh kelompok garis keras, kata jihad dimaknai begitu saja dengan perang. Padahal jihad bila diartikan dalam bahasa Indonesia bukanlah berarti perang namun mempunyai arti bersungguh-sungguh. Jihad fi sabilillah pada masa awal islam yang berarti berperang seharusnya dimaknai bersungguh-sungguh dalam berperang seperti bersungguh-sungguh dalam belajar, jadi penekanan katanya bukan dalam kata berperang atau belajarnya tapi berada dalam kata bersungguh-sungguhnya.
Mencegah Masuk Kampus

Tidak berhenti disitu saja golongan radikalisme agama juga berupaya menyebarkan ideologi mereka ke setiap sektor dan kampus adalah salah satu tempat yang terpilih untuk menyemaikan ideologi mereka. Kampus dipilih karena disitu terdapat banyak mahasiswa yang dilihat dari segi mentalitas tergolong masih labil dan mudah terpengaruh. Kaum muda dianggap berpotensi dalam meneruskan gerakan negara islam karena selain berpendidikan pemahaman mereka terhadap islam juga relatif dangkal. Dengan beberapa dalih simbol agama seperti janggut, kembali kepada al-Qur’an dan Hadits, maka tidak sedikit mahasiswa terutama dari universitas umum yang telah terjerumus dalam ideologi tersebut.

Terbaru adalah kasus Negara Islam Indonesia (NII) yang sempat menggemparkan negeri ini dengan meghilangnnya beberapa mahasiswa dari berbagai universitas. Banyak mahasiswa yang terekrut dalam jaringan NII dan ikut menjadi agen penyebar paham radikalisme agama. Untuk itu gerakan radikalisme agama tidak boleh begitu saja dianggap remeh karena seekor singa yang berbahaya duhulu juga pernah kecil. Penulis juga pernah berdiskusi dengan Hadi, mantan kordinator wilayah (KW) II NII di suatu forum diskusi lesehan, beliau mengatakan bahwa tidak sedikit warga IAIN Walisongo yang dahulu telah berhasil direkrutnya baik itu berupa dosen maupun mahasiswa.

Cukup mengherankan sebenarnya apa yang dikatakan Hadi karena IAIN Walisongo sebagai sentral pendidikan Islam di Semarang dapat terasuki golongan radikalisme agama. Bila penyusupan tersebut betul maka seluruh civitas akademika perlu bergerak cepat untuk membendung menyebarnya paham radikalisme agama tersebut. Namun jika peryataan hadi hanya bualan belaka maka ini dapat menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa untuk memikirkan saudaranya di lain kampus yang pemahaman agamanya dangkal sehingga tidak menutup kemungkinan akan mudah terbujuk dengan simbol agama yang selalu diteriakkan oleh golongan garis keras.

Dari perspektif ini penulis berpandangan boleh jadi munculnya gagasan mengubah islam kedalam negara karena semangat berlebihan tanpa dibarengi pengetahuan agama yang memadai. Berawal dari situ maka dimunculkan klaim kebenaran tunggal untuk menghindari pemahaman lain yang berseberangan. Pandangan yang berbeda atau bersebrangan harus diberangus dan dianggap sesat. Selanjutnya agama dijadikan dalih terhadap pemahaman literal mereka sehingga tanpa mereka sadari apa yang mereka perjuangkan adalah ideologi mereka dan bukan islam itu sendiri.

Karena itu alasan utama menolak radikalisme agama ialah untuk mengembalikan wajah islam yang penuh rahmat sekaligus menyelamatkan NKRI dari keterpecahbelahan. Mahasiswa perlu hadir disini untuk mewujudkan islam yang lebih moderat dan akomodatif terhadap kekayaan budaya nusantara. Islam yang terbuka dan tidak meneriakkan kekerasan adalah kunci perdamaian di Indonesia sehingga gerakan radikalisme agama yang sekedar menekankan sisi luar dari islam tidak akan pernah menemukan relevansinya di negeri ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhlak Pecinta Ahlulbait

Oleh: Syaikh Shaduq 1. Dari Ayahandaku, semoga Allah swt memberi rahmat kepadanya, ia mengatakan telah meriwayatkan kepadaku Ali Bin Husain Asyad Abadi dari Jabir bin Ju’fi, ia mengatakan telah berkata Abu Ja’far: “Apakah cukup yang menjadi syiah dengan hanya mengatakan cinta kepada Ahlulbait? Imam menjawab, “Demi Allah , tiada lain Syiah kami adalah mereka yang bertakwa kepada Allah dan mentaati-Nya, Mereka hanya dikenal dengan ketawadhuan, kekhusyu’an, menunaikan amanat, dan banyak berdzikir kepada Allah, shaum, shalat, berbuat baik kepada orang tua, baik kepada tetangga yang miskin, yang fakir, yang punya hutang, anak-anak yatim, jujur, membaca Quran, menjaga lisan kecuali dengan perkataan yang baik, Orang-orang syiah adalah amanah bagi para keluarga mereka”. Jabir kemudian mengatakan: “Wahai putra Rasulullah saw, kami mengenal mereka tetapi tidak memiliki sifat-sifat seperti ini”. Beliau mengatakan,” Wahai Jabir janganlah engkau bermazhab kepada orang-...

Fikih Shalat Lima Mazhab

Fikih Salat Lima Mazhab Fikih sebagai cabang (furu`) dalam agama Islam merupakan bagian yang paling sering diperselisihkan, dan kebanyakan orang menganggapnya sebagai hal yang menarik dan penting (terkadang gerakan salat dianggap lebih penting daripada khusyuknya shalat). Halaman ini ditulis bukan untuk memperkeruh perselisihan antarmazhab juga bukan untuk meningkatkan fanatisme mazhab. Justru halaman ini ditulis sebagai informasi agar kita mengenal “dunia lain” dalam Islam—jika kita hanya mengenal “dunia” dari mazhab kita sendiri. Saya berharap dengan mengenal saudara kita yang berbeda mazhab, tidak ada lagi prasangka dan permusuhan. Insya Allah. Meskipun Ja’far Ash-Shadiq merupakan guru yang menghasilkan beberapa ulama besar, termasuk Abu Hanifah dan Malik bin Anas, namun penjelasan mengenai fikih salatnya akan ditempatkan diakhir. Diawal akan ditulis fikih salat empat mazhab Ahlussunah yang utama (Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali) secara garis besar ...

GELIAT ALIRAN WAHABI DI NEGERI AHLUS SUNNAH

GELIAT ALIRAN WAHABI DI NEGERI AHLUS SUNNAH Aliran Wahabi mewarnai Indonesia sejak dibawa oleh para jamaah haji awal abad 19. Generasi berikut dilakukan oleh para pelajar Indonesia di Timur Tengah. Gerakan Wahabi masuk ke Indonesia, menurut beberapa sejarawan, dimulai pada masa munculnya Gerakan Padri Sumatera Barat pada awal abad XIX. Beberapa tokoh Minangkabau yang tengah melaksanakan ibadah h aji melihat kaum Wahabi menaklukkan Mekah dan Madinah yang pertama pada tahun 1803-1804. “Mereka sangat terkesan dengan ajaran tauhid dan syariat Wahabiyah dan bertekat menerapkannya apabila mereka kembali ke Sumatera. Tiga di antara mereka adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Bersama-sama dengan Tuanku Nan Renceh, mereka memimpin Gerakan Padri,” ungkap oleh Habib Soleh Al Hadar, Rois Aam Barisan Pemuda Salafun assalihin Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dalam perkembangan berikutnya, Ahmad Dahlan (1868-1923) menunaikan ibadah haji saat Arab Saudi sedang terjadi ...